Grand Impressa dan Vega-R. Kedua sepeda motor ini pernah saya miliki, dan cukup membawa kenangan mendalam. Mulai menemani adventure ria sampai bumi Sumatera, terjebak di lautan pasir Gunung Bromo, sampai terdampar di rimba beton kota Jakarta.
Sepeda motor yang pertama saya miliki adalah Honda Grand Impressa tahun 1996. Dibelikan (baru grass dari toko) orang tua ketika pertama kali bersekolah SMA di Surabaya motor ini selalu menemani dengan setia. Layaknya anak SMA yang suka ugal-ugalan, Grand sering saya pakai ugal-ugalan pula. Kebut-kebutan di jalanan, bongkar-bongkar onderdil,sampai touring.

Saya pakai motor ini sejak 1996-2002 dan sejak 2004 – sekarang motor ini beralih pemakai, yakni dipakai adik yang sekarang berkuliah di Jogja,… yang tidak kalah joroknya dengan saya dalam urusan perawatan.
Dalam pemakaiannya, grand sangat sering saya pakai untuk jalan-jalan ke luar kota. Sering kali pulang sekolah dulu, kalo lagi kurang kerjaan kuajak grand ini jalan-jalan cari udara dingin di daerah Trawas, Tretes atau Batu-malang (jarak + 100 km) dari Surabaya.
Cukup rutin Grand melintasi jalur Surabaya – Trawas/Tretes/Batu dalam rentang antara 1996 – 2004. Selain itu, kira-kira 2 minggu sekali, antara tahun 2000 – 2004 grand juga saya pakai untuk berperjalanan Surabaya-Jember (+ 450 km PP). Sempat juga Grand ini dibawa jalan ke Jogja, Bali, dan Bromo (kalau yang ini bolak-balik) dan yang paling parah adalah saya pakai keliling Jawa…yaitu menyusuri jalanan Surabaya kearah Timur, sampai Banyuwangi, kemudian balik mengarah ke barat lewat Malang, Kediri, Jogja, Bandung, Bogor, hingga sampai ke Lampung dan balik ke timur lagi hingga sampai Jakarta. Dengan pemakaian yang seperti itu, jarak tempuh rata-rata pertahun adalah + 22200 km.
Jalanan banjir di Surabaya mulai setinggi mata kaki hingga separuh bodi motor juga sering saya lalui bersama Grand.Meski sering juga mogok karena knalpot dan busi kemasukan air, setelah dikeringkan sebentar mesin Grand selalu mudah untuk dinyalakan kembali.
Dengan pemakaian dan jarak tempuh yang demikian, Grand tidak pernah mengalami kerusakan yang berarti. Paling-paling hanya perlu ganti rantai, laker roda, atau onderdil lain yang habis masa pakainya.
Kerusakan yang cukup parah adalah ketika dari blok mesin mulai keluar rembesan oli. Karena inginsupaya mesin senantiasa bersih tidak terkena rembesan oli, maka sepeda motor ini pun saya bawa bengkel langgananteman-teman yang konon katanya cukup bagus dan terpercaya. Namun ternyata kepercayaan yang terlalu tinggi pada bengkel tidak membawa hasil yang diharapkan. Setelah selesai menjalani perbaikan di bengkel itu motor saya jadi sering rewel. Kebocoran oli tidak teratasi maksimal dan suara jadi cenderung kasar.
Poinnya, selama saya pakai Grand tidak pernah mengalami kerusakan yang berarti walau dengan jarak tempuh yang demikian. Rusaknya motor dikarenakan penanganan bengkel yang tidak tepat. Oleh karena itu,saya menganggap bahwa Honda Grand Impressa adalah motor yang sangat handal.
Suatu saat, selama beberapa bulan saya sempai pakai motor milik teman, Yamaha Crypton tahun 1997. Dalam pemakaian itu, Crypton sempat saya pakai untuk berperjalanan ke Jember. Kesan saya, Crypton sangat nyaman dikendarai. Tarikan responsif, handling bagus dan BBM cukup irit.
Kesan yang bagus terhadap Yamaha Crypton memawa saya untuk membeli Yamaha Vega-R di tahun 2004 (karena tahun segitu Crypton sudah gak keluar). Disamping kesan yang tadi, model yang ramping dan gencarnya promosi Komeng tentang produk Yamaha membuat saya benar-benar yakin atas keputusan saya membeli sepeda motor ini (baru gress dari toko).
Dalam pemakaiannya, Vega-R rutin saya pakai untuk berperjalanan Surabaya-Jember setiap 2 minggu sekali selama kurun waktu akhir 2004 – pertengahan 2005. BBM yang konon katanya irit, ternyata tidak seirit yang saya bayangkan. Perbandingan bahan bakar 1 : 42,5 menurut saya cukup boros, karena Grand yang saya pakai sebelumnya memiliki perbandingan 1:50. Akselerasi dan handlingpun untuk kejar-kejaran dengan bis di jalur Pantura kurang mantap dibandingkan dengan Grand. Namanya juga motor kreditan, dan yang bayar kreditnya saya sendiri (kalo dulu, grand dibelikan begitu saja oleh Orang Tua) membuat perawatan untuk Vega-R sangat saya perhatikan. Oli tidak pernah telat dan service pun selalu dijalani.

Di awal tahun 2005, sepulang kerja saya harus menerobos hujan deras yang membuat beberapa ruas jalan di Surabaya tergenang air cukup dalam. Ketika perjalanan mencapai daerah Ngagel, saya dihadang oleh banjir setinggi 0,5m. banyak kendaraan yang balik arah karena genangan air itu. Melihat itu, saya jadipenasaran ingin mencoba kehandalan si Vega-R…bandingin dengan Grand ..pikir saya waktu itu.
Alhasil, kedalaman air yang mencapai setengah bodi motor berhasil dilewati dengan baik, Vega-R tidak mogok.Namun, ketika mencapai daerah yang kering, saya mulai merasakan adanya keanehan pada kopling. Dan parahnya, ternyata kopling selip hingga motor hamper tidak bias jalan. Mesin bias nyala, bahkan digeber sampai putaran tinggi, namun motor hanya berjalan perlahan. Saya akui ketika melewati genangan air saya banyak main kopling. Tapi, ketika sulu saya pakai Grand saya tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Akhirnya dengan susah payah motor berhasil mengantarkan saya sampai rumah walau di 1 km terakhir motor harus saya tuntun karena sudah tidak bisa jalan sama sekali.
Keesokan harinya, Vega-R saya bawa ke bengkel dekat rumahdankampas kopling diganti. Setelah itu, motor bisa berfungsi lagi dengan baik. Dalam benak saya waktu itu, “masa banjir gini aja Vega-R sudah rusak sih ? mana handalnya?”…
Beberapa waktu kemudian, yakni sekitar pertengahan tahun 2006 saya hijrah ke Jakarta dan Vega-R saya bawa serta. Pemakaian selama di Jakarta sangat berbeda dengan di Surabaya. Kalau selama di Surabaya Vega-R sering dipakai touring ke luar kota, di Jakarta Vega-R lebih banyak menganggur karena jarak ke tempat kerja tidak lebih dari 1km sehingga saya sering jalan kaki ke tempat kerja. Kalaupun dipakai jauh hanya 1 kali ke Bogor dan 1 kali ke Bandung. Jarak tempuh rata-rata dalam 1 hari hanya + 5 km.
Setelah 1 tahun menikmati jalanan Jakarta, Vega-R mulai ngadat.Muncul suara kasar dari mesin.Tak…tak…tak…Setelah dibawa ke bengkel, divonis bahwa kerusakan disebabkan karet kopling hancur, sehingga serpihannya menutup filter oli. Hal ini mengakibatkan pelumasan terhambat sehingga gesekan komponen mesin menjadi tinggi karenatidak terlumasi oleh oli. Menurut mekanik, hancurnya karet kopling disebabkan adanya kesalahan dalam pemasangan kampas kopling yang dulu pernah dilakukan pada Vega-R ketika kampas kopling terbakar gara-gara dipakai melibas banjir.
Alhasil, saya harus mengeluarkan uang cukup banyak untuk mengganti stang piston, piston,ring piston, noken as dan sepasang temlar (rocker arm).
Beru beberapa hari keluar bengkel, suara kasar kembali muncul dari mesin. Setelah saya bawa ke bengkel lagi, ditemukan penyebab suara kasar itu adalah karet kopling yang hancur lagi (seperti ketika awal kerusakan) hingga serpihannya menutupi filter oli. Akhirnya, mesin dibongkarlagi dan karet kopling diganti. Beruntung komponen mesin yang lain masih bisa diupayakan dipakai sehingga tidak perlu ganti lagi.
Tidak berselang lama, lagi-lagi suara kasar mesin mulai muncul lagi. Dalam benak saya yang terpikir adalah bahwa komponen mesin semacam noken as, piston dll yang baru saya genti beberapa waktu sebelumnya sudah rusak gara-gara hancurnya karet kopling yang terakhir. Akhirnya, dengan berat saya putuskan untuk mengirim Vega-R ke Surabaya dan menjualnya disana. Keputusan ini berat karena cukup banyak kenangan saya bersama Vega-R, dan kejadian ini bertepatan dengan angsuran terakhir (3 tahun) yang baru saya bayar.
Untunglah pasar Vega-R di Surabaya masih cukup baik, sehingga di pertengahan tahun 2007, Yamaha Vega-R th 2004 bisa laku seharga 6,6 juta.
Terlalu naïf jika hanya dengan pengalaman seperti itu saya langsung memvonis bahwa Vega-R jelek sedangkan Grand bagus. Bisa saja kerusakan pada Vega-R disebabkan pada perawatan yang kurang tepat (meski saya rajin servis dang anti oli) karena bukankah kedua produk itu telah dibuat dengan seksama oleh para ahli …?!
Tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan produk tertentu, melainkan sekedar mengingatkan pada kenangan bersama 2 sepeda motor yang saya miliki – beli dari baru.
DIarsipkan di bawah: MENIKMATI INDAHNYA DUNIA | Tagged: antara grand dan vega-r, Grand, Honda Grand, kelebihan, kelemahan, Vega, Vega-R, Yamaha Vega