Disana rumahku
Dalam kabut biru
………….
Ke Jakarta aku kan kembali
Walaupun apa yang kan terjadi
Meski saya nggak terlalu hafal, cuplikan lagu diatas yang dibawakan Koes Plus beberapa tahun lalu mungkin cukup dekat dengan kehidupan orang di Jakarta..
Jakarta,kota metropolitan,kota yang memiliki peredaran uang terbesar di Indonesia, kota dengan beragam budaya, kota sejuta impian.
Bagi orang yang berada di luar Jakarta, mungkin kota ini merupakan sesuatu yang begitu mempesona, begitu indah. Banyak artis, banyak mobil mewah berseliweran, banyak gedung menjulang, dan …. Banyak kesempatan kerja ditawarkan… Namun, disamping itu banyak pula sesuatu yang lain….yakni banyak aksi kriminalitas, banyak kekumuhan,… banyak pengangguran,…banyak kemacetan, … dan terutama adalah ….. banyak kesumpekan …
Jakarta merupakan Ibukota Negara kaya sehingga berbagai sektor industri memiliki kantor pusat di kota ini …otomatis jadi banyak produk yang butuh dipasarkan, sehingga munculah beragam media pengiklanan di kota ini. Televisi dan radio merupakan media yang saat ini paling laris sebagai media pengiklanan. Otomatis, banyak artis yang dihasilkan oleh televisi dan radio.
Karena beragam kantor tumbuh di Jakarta, otomatis memunculkan tersedianya kesempatan bekerja di kantor-kantor itu…Karena banyak orang ingin meraih kesempatan bekerja yang ditawarkan di Jakarta, maka berlomba-lomba orang dari seantero negeri mengadu nasib di Jakarta, … Namun,karena kesempatan itu ternyata tidak sebanding dengan banyaknya orang yang mengadu nasib, maka banyak bermunculan pengangguran….yang ujung-ujungnya memicu munculnya kekumuhan dan kriminalitas.
Jakarta
Saya adalah salah seorang pengadu nasib di kota ini. Diawal kehidupan dalam kesibukan Jakarta, saya merasa begitu beruntung akan semua yang saya alami….saya merasa sangat beruntung bisa hidup di Jakarta. Memiliki pekerjaan di perusahaan bonafid yang terletak di daerah segitiga emas Jakarta , dengan penghasilan yang cukup untuk membeli sepiring nasi dan lauk pauk setiap hari.
Seiring waktu, ada sesuatu yang membuat saya berpikir ulang tentang indahnya imaji tentang Jakarta.
Waktu berlalu dengan cepat. Baru saja memejamkan mata dimalam hari, tiba-tiba pagi sudah menjelang dan saya harus bergegas bersiap untuk bekerja…dan rasanya belum lama bekerja, ternyata senja sudah menghampiri, …dan malam sudah menjelang kembali….begitu setiap hari, sampai saya merasa aneh. Rasanya baru saja saya menikmati hari minggu, tiba-tiba hari minggu berikutnya sudah datang lagi… rutinitas itu saya jalani,… dan parahnya baru saya sadari bahwa sudah hampir 2 tahun saya jalani kehidupan semacam ini.
Jika mengingat fenomena mekanis kehidupan orang-orang yang digambarkan dalam film Matrix, sepertinya saya sudah benar-benar menjadi bagian dari mesin, yang sudah sangat mekanis digerakkan oleh sesuatu entah apa …
Semua harus dijalani berdasar rutinitas yang sudah terjadwal tanpa bisa ditolak. Mandi harus pagi hari jam sekian, berpakaian harus jam sekian, berak jam sekian, ntar kalau mau pipis harus menunggu sampai jam sekian, mengucapkan “selamat pagi” pada rekan kerja menjadi sesuatu yang wajib (tidak boleh kita ganti dengan kata lain misalnya : “hoi, halo, yak opo jeh, ….de el el …”) sehingga apabila suatu saat ada sesuatu yang harus dilakukan namun ternyata masih diluar jadwal, menjadi sesuatu yang merepotkan. Contohnya : berak di siang hari (kenapa ? karena jadwal berak adalah di pagi hari)…. Juancoook
Di Jakarta ada banyak sekali orang…sangat banyak malahan… beragam kebiasaan, beragam sifat, beragam perilaku bisa kita temui dari orang-orang yang kita temui. Dengan banyaknya orang, mendorong munculnya banyak teman dalam kehidupan untuk diakrabi.
Namun, ternyata teman-teman itu adalah bagian dari sesuatu yang sangat mekanis. Jarang ada bahasa hati, yang merupakan aktualisasi dari ungkapan perhatian, bentuk interaksi antara sesama makhluk yang bernama manusia.
“Selamat pagi”, …atau “Apa kabar”, dll ternyata hanyalah ungkapan lisan, yang tanpa diiringi oleh ketulusan jiwa. Mengapa ? Karena ternyata di balik kata-kata itu sesungguhnya muncul suatu bentuk mekanis seperti ini :
Si A : Selamat pagi pagi pak
Si B : Selamat pagi
Si A : Apa Kabar ?
Si B : Baik…kamu apa kabar ?
Si A : Baik juga sih … Cuma kemarin ..aku ee…..
Si A : Oh…. Syukur deh… aku mau nanya gimana tentang ……..yang……bla..bla..bla..
(dalam kata yang tidak terucap mengatakan : mau elu njungkir kek, apa kek, emang gue pikirin…yang penting gue udah menyapa dengan ramah).
Dalam bentuk mekanis yang semacam itu, terdapat sesuatu yang seakan terlupa bahwa ada satu orang dan satu hal yang sesungguhnya merupakan teman yang paling berharga. Siapakah dia ? : diri sendiri
Dan satu hal yang berharga ? : alam
Untuk dua hal itu, kita bisa cek apakah benar kita telah lupakan teman yang berharga itu : Ketika diri sendiri mengatakan “Hoi, aku lagi capek, ototku dah pada pegel” … atau “ hoi, ususku dah kepenuhan, perlu segera ke WC nih…” apakah kita mendengarkan seruan itu dengan penuh pengertian yang dilanjutkan dengan istirahat, ‘ngempet, atau bagaimana …?
Kedua tentang jauh dengan alam : Saya ingat pertanyaan Mario Teguh di O-Channel ketika dia bertanya “Kapankah anda terakhir melihat indahnya matahari terbit ?” Bagi saya sendiri, sudah hampir 2 tahun saya tidak melihat keindahan itu.
Jakarta …
Kota ini menarik orang-orang dengan berbagai impian yang setelah datang, orang -orang itu didorong untuk menjadi mekanis….
Whoi,…manusia mekanis apa bedanya dengan secuplik baut dalam sebuah mesin ?
Baut akan tetap menjadi baut karena memang takdirnya baut itu berada di dalam mesin, menjaga supaya perangkat didalamnya tetap menyatu sehingga mesin bisa berfungsi dengan baik.
Itulah bedanya manusia dengan baut. Manusia bukan baut. Manusia bisa berontak, bisa melepaskan diri dari perangkat-perangkat yang melekat untuk lepas keluar dari blok mesin, jalan-jalan mencari mesin lain, atau bahkan menjadikan dirinya sebagai penonton mesin bekerja….
Kalau begitu, mau jadi apa ? Mau jadi manusia yang bersifat manusia atau menjadi manusia yang bersifat baut ?
baru sekali ini aku buka’2 blog mu, nang. yo’opo khabarmu? kamu pandai menulis sekarang (atau mungkin sudah dari dulu? tapi enggak dipublikasikan?). tulisanmu yang terakhir bagus, sepertinya merepresentasikan sebagian dari kita para pengadu nasib.
berdasarkan pengalamanku, buat aku agar kita tidak menjadi ‘otomatis’ adalah dengan be aware. artinya sesuatu yang kita lakukan adalah hasil dari kesadaran kita untuk memilih melakukan sesuatu itu. sehingga kita tidak menjadi terseret arus yang membawa kita secara tidak sadar & setelah kita sadari ternyata ada jeram yang kita tidak siap hadapi.
banyak aku temui teman2 yang saking sibuknya tiba2 dia tersadar usia tidak lagi mendukung untuknya dalam melakukan hal-hal yang belum sempat ia lakukan. simple thing like marriage, misalnya.
atau kita bekerja di suatu perusahaan yang membuat kita nyaman (dari sisi uang ataupun lingkungan sosial), tiba2 kita tidak lagi menjadi kreatif dan produktif karena kenyamanan itu, sehingga akhirnya kita jadi uring2an kalo ada pegawai baru yang lebih kreatif dan produktif dibandingkan dengan kita. ujung2nya, stress! (tempat hiburan jd laku gara2 perkara yang satu ini, dokter boyke jadi laris karena banyak yang mengeluh susah punya keturunan, agresifitas meningkat bila ada sedikit saja yang membuat masalah dengan kita..) fuiih…!
menurut hasil pengalaman dan pengamatan serta pendidikan (hehe) yang aku peroleh, maka awareness yang bisa menyelamatkanku adalah aku kembali pada apa yang menjadi tujuan hidupku. KARIR? KELUARGA? atau yang lain? (menurut Maslow sih kebutuhan yang paling tinggi adalah aktualisasi diri…)
dan juga penting adalah selalu bersyukur atas apapun yang kita dapatkan saat ini.
reply ya?
sissy
Oleh: sissy on September 17, 2008
at 2:46 pm